Minggu, 18 April 2021

Dakwah dalam Komunikasi Antar Etnik, Ras dan Bangsa

 Dalam komunikasi antarbudaya yang ideal, kita akan mengharapkan banyak persamaan dalam pengalaman dan persepsi. Tetapi karakter budaya cendrung memperkenalkan kita kepada pengalaman-pengalaman yang tidak sama, dan oleh karenanya membawa kita kepada persepsi yang berbeda pada eksternal. Ada tiga unsur sosio-budaya mempunyai pengaruh yang besar pada persepsi, yaitu sistem kepercayaan, nilai sikap pandangan dunia dan organisasi social (Deddy Mulyana (Ed.), 2003: 26). 

Menghadapi berbagai macam dalam arti kemajemukan dalam segala hal, komunikasi antar bangsa semakin terasa betapa pentingnya kita pahami, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat, diperlukan untuk mengatur tatakrama pergaulan antar manusia. Sebab berkomunikasi dengan baik sesuai dengan budaya akan memberi pengaruh langsung pada struktur keseimbangan seseorang dalam bermusyawarah. Bahkan Hafid Cangara dalam bukunya Pengantar Ilmu Komunikasi menegaskan bahwa keberhasilan dan kegagalan seseorang dalam mencapai sesuatu yang diinginkan, banyak ditentukan oleh kemampuan berkomunikasi (Hafid Cangara, 1998: 4). Muhammad Thalhah Hasan dalam Bukunya Prospek Islam dalam Menghadapi Tantangan Zaman menjelaskan bahwa Islam dan perkembangan masyarakat mengalami benturan dan pergulatan pemikiran yang cukup seru, di satu pihak dituntut untuk beradaptasi dengan berbagai macam perubahan yang terjadi dalam kehidupan sosial. 

Antara komunikasi dan budaya sangat memiliki keterkaitan yang erat, di mana salah satu fungsi yang penting dalam komunikasi adalah transmisi budaya, ia tidak dapat terelakkan dan akan selalu hadir dalam berbagai bentuk komunikasi yang mempunyai dampak pada penerimaan individu. Demikian juga beberapa bentuk komunikasi menjadi bagian dari pengalaman dan pengetahuan individu. Melalui individu ini kemudian komunikasi menjadi bagian dari pengalaman kolektif kelompok, publik, audience barbagai jenis dan individu bagian dari suatu massa. Hal ini merupakan pengalaman kolektif yang direfleksikan kembali

melalui bentuk komunikasi, tidak hanya melalui media massa, tetapi juga dalam seni, ilmu pengetahuan, dan masyarakat. Warisan kemudian adalah dampak akumulasi budaya dan masyarakat sebelumnya yang telah menjadi bagian dari hak asasi manusia. 

Dalam era modern ini muncul dan berkembang berbagai model dan bentuk dalam komunikasi antarbudaya. Ada beberapa jenis atau model komunikasi yang menjadi bagian dari komunikasi antarbudaya. Di antaranya adalah sebagai berikut (Purwasito, 2003:122): 

a. Komunikasi internasional (International Communications), 

yaitu proses komunikasi antara bangsa dan negara. Komunikasi ini tercermin dalam diplomasi dan propaganda, dan seringkali berhubungan dengan situasi intercultural (antarbudaya) dan interracial (antarras). Komunikasi internasional lebih menekankan kepada kebijakan dan kepentingan suatu negara dengan negara lain yang terkait dengan masalah ekonomi, politik, pertahanan, dan lain-lain. Menurut Maletzke, komunikasi antarbudaya lebih banyak menyoroti realitas sosiologis dan antropologis, sementara komunikasi antarbangsa lebih banyak mengkaji realitas politik. Namun demikian, komunikasi internasional (antarbangsa) pun masih merupakan bagian dari komunikasi antarbudaya. 

b. Komunikasi antarras (interracial communication), 

yaitu suatu komunikasi yang terjadi apabila sumber dan komunkan berbeda ras. Ciri penting dari komunikasi antarras ini adalah peserta komunikasi berbeda ras. Ras adalah sekelompok orang yang ditandai dengan ciri-ciri biologis yang sama. Secara implisit komunikasi antarras ini termasuk ke dalam komunikasi antarbudaya. Hambatan utama dalam komunikasi antar-ras ini adalah sikap curiga kepada ras lain. Misalnya orang Jepang berkomunikasi dengan orang Amerika. 

c. Komunikasi antaretnis (interethnic communication), 

yaitu berkaitan dengan keadaan sumber komunikannya, sama ras/suku bangsa tetapi berbeda asal etnis dan latar. Komunikasi Antarbudaya di Era Modern belakangnya. Kelompok etnik adalah kelompok orang yang ditandai dengan bahasa dan asal-usul yang sama. Oleh karena itu komunikasi antaretnik merupakan komunikasi antarbudaya. Misalnya, komunikasi antara orang-orang Kanada Inggris dengan Kanada Prancis. Mereka sama-sama warga negara Kanada, sama rasnya tetapi mempunyai latar belakang, perspektif, pandangan hidup, cita-cita, dan bahasa yang berbeda.

Komunikasi antarbudaya dalam masyarakat plural tidak terlepas dari upaya-upaya dakwah Islam yang pada hakikatnya adalah upaya untuk mengubah seseorang, sekelompok orang, atau suatu masyarakat menuju keadaan yang lebih baik sesuai dengan perintah Allah dan tuntunan Rosul-Nya. Atau dengan kata lain, esensi dakwah adalah mengubah segala penyembahan kepada selain Allah kepada keyakinan tauhid, mengubah semua jenis kondisi kehidupan yang timpang kearah kondisi yang penuh dengan ketenangan batin dan kesejahtraan lahir berdasarkan nilai-nilai Islam, dan upaya sebaiknya perlu mengetahui: 

1. Komunikasi antarbudaya sangat mendukung terlaksananya dakwah Islam melalui pendekatan komunikasi dengan segala variasinya.  

2. Dakwah mengahadapi pergeseran tata nilai harus mampu mengatasi perubahan dan faktor-faktor penyebab terjadinya pergeseran nilai, akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan terknologi, pertumbuhan ekonomi, perubahan politik, peranan kekuasaan pemerintahan, perubahan lingkungan bio-fisik dan pengaruh kebudayaan luar. 

3. Prospek Islam dalam menghadapi tantangan zaman harus memahami dan mengetahui paling tidak ada tiga hal yang perlu diatasi secara tuntas yaitu soso-ekonomis, sains dan teknologi dan etis-religius


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kolah Watu, Wisata Kekinian Di Tengah Kota

  Wonosobo – Kolah Watu merupakan tempat rekreasi baru dan hits di Wonosobo, Jawa Tengah. Kolah Watu tepatnya berlokasi di Perumahan Asli Pe...