Minggu, 30 Mei 2021

Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan Non Verbal dalam Dakwah

KOMUNIKASI VERBAL

Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata, entah lisan maupun tulisan atau bentuk komunikasi yang menggunakan kata-kata, baik dalam bentuk percakapan maupun tulisan (speak  language).  Komunikasi  ini paling banyak dipakai dalam hubungan antar manusia. Melalui kata-kata, mereka mengungkapkan perasaan, emosi, pemikiran, gagasan, atau maksud mereka, menyampaikan fakta, data, dan informasi serta menjelaskannya, saling bertukar perasaan dan pemikiran, saling berdebat, dan bertengkar.  Dalam  komunikasi  verbal itu bahasa memegang peranan penting. Komunikasi Verbal mengandung makna denotative. Media yang sering dipakai yaitu  bahasa.  Karena,  bahasa mampu menerjemahkan pikiran seseorang kepada orang lain. 

Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan  satu kata atau lebih. Bahasa dapat juga dianggap sebagai sistem kode verbal (Mulyana, 2005). Bahasa dapat didefinisikan sebagai seperangkat simbol, dengan aturan untuk mengkombinasikan simbol-simbol tersebut, yang digunakan dan dipahami suatu komunitas. 

Rakhmat (1994), mendefinisikan bahasa secara fungsional dan formal. Secara fungsional, bahasa diartikan sebagai alat yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan gagasan. Ia menekankan dimiliki bersama, karena bahasa hanya dapat dipahami bila ada kesepakatan di antara anggota-anggota kelompok sosial untuk menggunakannya. Secara formal, bahasa diartikan sebagai semua kalimat yang terbayangkan, yang dapat dibuat  menurut  peraturan  tatabahasa.  Setiap bahasa mempunyai peraturan bagaimana kata-kata harus  disusun dan dirangkai-kan supaya memberi arti.

Ada beberapa unsur penting dalam komunikasi verbal, yaitu: 

1. Bahasa 
Pada dasarnya bahasa adalah suatu system lambang yang memungkinkan orang berbagi makna. Dalam komunikasi verbal, lambang bahasa yang diperguna- kan adalah bahasa Bahasa lisan, tertulis pada kertas, ataupun elektronik. Bahasa suatu bangsa atau suku berasal dari interaksi dan hubungan antara warganya satu sama lain. 

2. Keterbatasan Bahasa 
Keterbatasan jumlah kata yang tersedia untuk mewakili objek, katakata adalah kategori-kategori untuk merujuk pada objek tertentu: orang, benda, peristiwa, sifat, perasaan, dan sebagainya. Tidak semua kata tersedia untuk merujuk  pada objek. Suatu kata hanya mewakili realitas, tetapi buka realitas itu sendiri. Dengan demikian, kata-kata pada dasarnya bersifat parsial, tidak  melukiskan sesuatu secara eksak.Kata-kata sifat dalam bahasa cenderung bersifat dikotomis, misalnya baik-buruk, kaya-miskin, pintar-bodoh, dsb. 

3. Kata 
Kata merupakan unit lambang terkecil dalam bahasa. Kata adalah lambing yang melambangkan atau mewakili sesuatu hal, entah  orang,  barang,  kejadian, atau keadaan. Jadi, kata itu bukan orang, barang, kejadian, atau keadaan sendiri. Makna kata tidak ada pada pikiran orang. Tidak ada hubungan  langsung antara  kata dan hal. Yang berhubungan langsung hanyalah kata dan pikiran orang. 

Jenis Komunikasi Verbal 

a. Berbicara dan menulis 
Bericara adalah komunikasi verbal-vokal. Sedangkan menulis adalah komunikasi verbal-nonvocal. Contoh komunikasi verbal-vocal adalah presentasi dalam rapat dan contoh komunikasi verbal-nonvocal adalah surat-menyurat bisnis. 

b. Mendengarkan dan membaca 
Mendengar dan mendengarkan itu kata yang mempunyai makna berbeda, mendengar berarti semata-mata memungut getaran bunyi sedangkan mendengar- kan adalah mengambil makna dari apa yang didengarmendengarkan melibatkan 4 unsur, yaitu mendengar, memperhatikan, memahami, dan mengingat. Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. 

KOMUNIKASI NON VERBAL

Komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang pesannya dikemas dalam bentuk tanpa kata-kata. Dalam hidup nyata komunikasi nonverbal  jauh  lebih banyak dipakai daripada komuniasi verbal. Dalam berkomunikasi hampir secara otomatis komunikasi nonverbal ikut terpakai. Karena itu, komunakasi nonverbal bersifat tetap dan selalu ada. Komunikasi nonverbal lebih bersifat jujur mengungkapkan hal yang mau diungkapkan karena spontan. 
Nonverbal juga bisa diartikan sebagai tindakan-tindakan manusia yang secara sengaja dikirimkan dan diinterpretasikan seperti tujuannya dan memiliki potensi akan adanya umpan balik (feed back) dari penerimanya.Dalam arti lain, setiap bentuk komunikasi tanpa menggunakan lambang-lambang verbal seperti kata-kata, baik dalam bentuk percakapan maupun tulisan. Komunikasi non verbal dapat berupa lambang-lambang seperti gesture, warna, mimik wajah dll. 

Komunikasi nonverbal (nonverbal communicarion) menempati porsi penting. Banyak komunikasi verbal tidak efektif hanya karena  komunikatornya tidak menggunakan komunikasi nonverbal dengan baik dalam waktu bersamaan. Melalui komunikasi nonverbal, orang bisa mengambil suatu kesimpulan mengenai suatu kesimpulan tentang berbagai macam persaan orang, baik rasa senang, benci, cinta, kangen dan berbagai macam perasaan lainnya. Kaitannya dengan dunia bisnis, komunikasi non verbal bisa membantu komunikator untuk lebih memperkuat pesan yang disampaikan sekaligus memahami reaksi komunikan saat menerima pesan. 

 Bentuk komunikasi nonverbal sendiri di antaranya adalah, bahasa isyarat, ekspresi wajah, sandi, symbol-simbol, pakaian sergam, warna dan intonasi suara. Beberapa contoh komunikasi nonverbal: 
a. Sentuhan, Sentuhan dapat termasuk: bersalaman, menggenggam tangan, berciuman, sentuhan di punggung, mengelus-elus, pukulan, dan lain-lain. 
b. Gerakan Tubuh, Dalam komunikasi nonverbal, kinesik atau gerakan tubuh meliputi kontak mata, ekspresi wajah, isyarat, dan sikap tubuh. Gerakan tubuh biasanya digunakan untuk menggantikan suatu kata atau frase, misalnya mengangguk untuk mengatakan ya; untuk mengilustrasikan atau menjelaskan sesuatu; menunjukkan perasaan. 
c. Vokalik, Vokalik atau paralanguage adalah unsur nonverbal dalam suatu ucapan, yaitu cara berbicara. Contohnya adalah nada bicara, nada suara, keras atau lemah- nya suara, kecepatan berbicara, kualitas suara, intonasi, dan lainlain
d. Kronemik, Kronemik adalah bidang yang mempelajari penggunaan waktu dalam komunikasi nonverbal. Penggunaan waktu dalam komunikasi nonverbal meliputi durasi yang dianggap cocok bagi suatu aktivitas, banyaknya aktivitas  yang dianggap patut dilakukan dalam jangka waktu tertentu, serta ketepatan waktu. 

Minggu, 16 Mei 2021

UNSUR - UNSUR KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

 1. Manusia – People

Dalam proses komunikasi manusia tentunya melibatkan beberapa orang yang masing-masing memiliki dua peran sekaligus yaitu sebagai sumber pesan dan sebagai penerima pesan. Yang dimaksud dengan sumber pesan adalah pihak yang menginisiasi sebuah pesan, dan yang dimaksud dengan penerima pesan adalah pihak yang menjadi target pesan. Setiap individu tidaklah menampilkan kedua peran ini secara independen. Melainkan, mereka berperan sebagai sumber pesan dan penerima secara simultan dan berkesinambungan. Baik sumber pesan atau penerima pesan tidak merespon semua pesan secara seragam atau menyampaikan pesan dengan cara yang sama. Baik sumber pesan maupun penerima pesan memiliki karakteristik individu seperti ras, jenis kelamin, usia, budaya, nilai-nilai, dan sikap yang mempengaruhi orang lain dalam mengirim dan menerima pesan.


2. Pesan – Message

Pesan dalam komunikasi antar budaya dapat berupa pesan verbal dan pesan nonverbal sebagai bentuk dari gagasan atau ide, pemikiran, ataupun perasaan yang sumber pesan ingin sampaikan atau komunikasikan kepada orang lain atau sekelompok orang yakni penerima pesan. Pesan adalah sebuah isi dari interaksi yang termasuk didalamnya berupa simbol-simbol (kata-kata atau frasa) yang digunakan untuk mengkomunikasikan berbagai gagasan yang disertai dengan ekspresi wajah, gerakan tubuh, gesture, kontak fisik, nada suara, dan kode-kode nonverbal lainnya. Pesan dapat disampaikan secara singkat dan mudah untuk dimengerti atau bahkan disampaikan dengan lebih panjang dan sangat kompleks.


3. Media/Saluran – Channel

Yang dimaksud dengan channel adalah saluran atau media yang menjadi alur pesan dari sumber pesan kepada penerima pesan. Sebuah pesan bergerak dari satu tempat ke tempat lain, atau dari satu orang ke orang lain melalui sebuah media atau channel. Saluran atau media komunikasi dapat berupa gelombang udara, gelombang suara, kabel dan lain-lain.


4. Umpan Balik – Feedback

Feedback atau umpan balik adalah tanggapan yang diberikan oleh penerima pesan yang berupa tanggapan verbal ataupun tanggapan nonverbal. Idealnya, kita merespon pesan yang disampaikan oleh orang lain dengan memberikan umpan balik sehingga sumber pesan mengetahui bahwa pesan telah diterima. Umpan balik adalah bagian dari berbagai situasi komunikasi. Walupun tidak memberikan respon atau diam, itupun sebenarnya adalah bentuk umpan balik.


5. Kode – Code

Yang dimaksud dengan kode adalah sebuah susunan sistematis dari simbol-simbol yang digunakan untuk menciptakan makna di dalam pikiran orang atau orang lain. Simbol-simbol yang dimaksud dapat berupa kata-kata, frasa, dan kalimat yang digunakan untuk membangkitkan atau menciptakan gambar, pemikiran, dan ide di dalam kikiran orang lain. Sebuah computer umumnya membawa pesan-pesan melalui kode biner pada kabel atau serat optic. Hal yang sama dapat kita lakukan dengan orang lain dengan menggunakan sebuah kode yang disebut dengan bahasa.


6. Encoding dan Decoding

Proses komunikasi dapat dilihat sebagai encoding dan decoding. Encoding didefinisikan sebagai sebuah proses mengartikan atau menyandi sebuah ide atau pemikiran ke dalam sebuah kode. Decoding adalah proses memberikan makna terhadap ide atau pikiran.


7. Gangguan – Noise

Dalam suatu proses komunikasi, noise atau ganguan adalah segala bentuk interferensi dalam proses encoding dan decoding yang mengurangi kejelasan sebuah pean. Gangguan dapat bersifat fisik seperti suara yang sangat keras atau sebuah perilaku yang tidak biasa misalnya seseorang yang berdiri terlalu dekat dengan kita sehingga kita merasa tidak nyaman. Gangguan juga dapat berupa gangguan mental, psikologis, atau semantic.


Senin, 10 Mei 2021

Dakwah Dalam Kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya

 

Usaha dakwah antar budaya ini mencakup beberapa sendi yang sangat luas, hal ini dapat berlangsung dengan baik bila kita mau menjaga keharmonisan dan sikap toleransi antar budaya. Apabila sebelum kita melakukan aktifitas kehidupan sehari-hari kita selalu melakukan yang terbaik bagi keberlangsungan hidup manusia, hal ini akan menambah khasanah yang saling menguntungkan satu sama lainnya. Untuk mewujudkan keberlangsungan dakwah antar budaya ini tentunya yang perlu kita lakukan adalah tindakan-tindakan sikap, perilaku yang sudah terprogram secara baik dan dikerjakan sesuai mengejek ibadah mereka sebatas mereka juga tidak mengganggu dengan ibadah yang kita lakukan. 

Sebagai makhluk yang berbudaya, maka misi dakwah melalui pendekatan dakwah antar budaya manusia selalu hidup bersama dan tidak dapat hidup sendiri dalam memenuhi kebutuhannya. Sejak lahir manusia selalu berinteraksi dengan orang lain. ini dapat dilihat dalam kehidupan kita sehari-hari, semua kegiatan yang dilakukan manusia selalu berhubungan dengan orang lain. Bayi yang baru lahir perlu interaksi dengan ibu, begitu juga dalam perkembangannya selalu dibantu oleh anggota keluarga lain. Interaksi manusia dengan manusia tersebut menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang punya budaya dan selalu hidup bersama serta tidak dapat hidup sendiri dalam memenuhi kebutuhannya. Kerjasama yang baik dalam kehidupan akan sangat membantu manusia dalam menjalankan hidup. Manusia yang satu akan melengkapi manusia yang lain. Sedangkan manusia disebut makhluk individu karena manusia itu tercipta dengan kepribadian, keunikan, kekurangan dan kelebihan, masing-masing sangat berbeda satu dengan yang lainnya, sehingga hanya ada satu saja di dunia ini. Selain itu disebut makhluk individu karena manusia itu mempunyai pola pikir, kehendak, kemauan sendiri-sendiri, yang seringkali bertentangan dengan orang lain. Tetapi karena banyaknya jumlah manusia, seringkali ada kesamaan tujuan, keinginan, minat dan lain-lain, yang akhirnya membentuk sebuah kelompok atau organisasi. 

Setiap manusia hidup dalam satu lingkungan budaya tertentu. Setiap lingkungan budaya itu senantiasa memberlakukan adanya nilai-nilai sosial dan budaya yang diacu oleh warga masyarakat sebagai penghuninya. Melalui suatu proses secara berkesinambungan itulah setiap manusia akan menganut suatu nilai dakwah yang diperoleh dari lingkungannya. Nilai-nilai itu diadopsi dan kemudian diimplementasikan dalam suatu bentuk “kebiasaan” yakni pola sikap dan perilaku kehidupan sehari-hari, dengan demikian pola perilaku seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain akan dipengaruhi oleh nilai-nilai yang diperoleh dari lingkungan antar budayanya. 

Kecenderungan dasar masyarakat terhadap kehidupan yang melingkupinya di samping kehidupan damai dan harmonis juga sangat rentan dengan trend to conflict dan konfrontatif. Kondisi demikian ini dalam perspektif dakwah merupakan bagian dari situasi dan kondisi masyarakat kita yaitu masyarakat yang mudah terkena konflik yang berasal dari luar diri kita yang muncul beraneka ragam. Mengacu pendapat para ahli antropolog, dakwah antar budaya dalam kehidupan masyarakat sedikitnya memiliki tiga kategori yang harus kita perhatikan yakni adanya wujud budaya sebagai suatu ide, gagasan, nilai dan peraturan. Wujud yang lain adalah adanya suatu wujud kompleks aktivitas kelakuan yang berpola dari manusia dan masyarakat. 

Dengan demikian metode dakwah dengan pendekatan dakwah antar budaya mampu mewujudkan suatu tatanan kehidupan yang lebih baik yaitu proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antar budaya orang lain dan dengan pendekatan antar budaya ini sebagai salah satu watak dasar Islam sebagai agama perdamaian. Dakwah antar budaya merupakan sebagai proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antar subjek, objek dakwah serta keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi pada tingkat intra dan antarbudaya agar pesan dakwah dapat tersampaikan dengan tetap terpelihara situasi dan kondisi. Dakwah antar budaya pada mulanya merupakan gagasan alternative bagi resolusi konflik pada diri manusia, baik antar individu maupun individu dengan kelompok lain. Solusi dakwah antar budaya kepada manusia atau kepada diri sendiri menghasilkan metode nafsiyah dengan rincian sub metodenya. Adapun wujud konkrit dari produk dari dakwah antar budaya ketika terjadi proses interaksi antara nilai Islam dengan budaya-budaya lokal yang nantinya akan menghasilkan wujud budaya Islami yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang ada pada masyarakat pada umumnya, serta masingmasing nilai resistensi terjadi pembauran atau akulturasi, penerimaan salah satunya menimbulkan hegemoni nilai budaya akhirnya terjadi perpaduan yang saling menguntungkan dan saling mengisi.

 

Kolah Watu, Wisata Kekinian Di Tengah Kota

  Wonosobo – Kolah Watu merupakan tempat rekreasi baru dan hits di Wonosobo, Jawa Tengah. Kolah Watu tepatnya berlokasi di Perumahan Asli Pe...