Rabu, 10 November 2021

Kolah Watu, Wisata Kekinian Di Tengah Kota

 



Wonosobo – Kolah Watu merupakan tempat rekreasi baru dan hits di Wonosobo, Jawa Tengah. Kolah Watu tepatnya berlokasi di Perumahan Asli Permai yang tidak jauh dari pusat kota, kita hanya perlu waktu 5 menit untuk sampai di Kolah Watu. Nama Kolah Watu diambil dari bahasa Jawa yang berarti kolam batu. Tempat rekreasi ini tergolong masih baru karena dibuka secara resmi oleh camat Wonosobo pada hari Minggu, 7 November 2021. Kolah watu ini merupakan tempat rekreasi berupa kolam dan kemah/camp ala-ala kekinian dan disana kita menikmati grill / panggangan yang kita masak sendiri.

Kolah Watu merupakan tempat rekreasi yang pas untuk keluarga, teman hingga pasangan yang ingin menikmati suasana kemah/camp yang kekinian disambi dengan memanggang daging dan juga bisa berenang untuk menghilangkan stress. Tempat ini juga sangat cocok untuk foto-foto dan instagramable untuk di upload di sosial media. “Kolah Watu memanglah beda dari yang lain karena berada di tepi jurang, selain instagramable namun juga murah dan pastinya kenyang saat pulang” tutur Panggah, pendiri Kolah Watu.

Kolah Watu buka setiap hari dari pukul 10.00 – 23.00. Tiket untuk masuk ke Kolah Watu bermacam-macam tergantung paket yang kita minta, umumnya Rp35.000,- untuk satu orang (1 alat dan 1 porsi bahan untuk grill). Ada juga paket untuk tiga orang yaitu Rp100.000,-  (1 alat dan 3 porsi bahan grill). Paket grill ini sudah menjadi tiket untuk masuk ke Kolah Watu, jadi apabila kita ingin masuk ke Kolah Watu maka kita harus membeli paket grill yang ada disana.

Kolah Watu ini memiliki dua kolah/kolam. Satu di antaranya untuk berenang dan satunya lagi berupa kolam yang bisa kita sebrangi menggunakan perahu kecil atau orang jawa biasa menyebut “gethek”. Apabila kita datang pada malam hari, kita akan disuguhi oleh live musik yang dibawakan oleh grup musik kroncong sehingga suasana ngegrill akan lebih asyik dan hangat. Selain itu kita juga akan menikmati indahnya lampu-lampu yang menghiasi Kolah Watu tersebut. “Tempat ini sangat menarik dan membuat saya kagum karena baru kali ini saya menemukan tempat rekreasi yang kekinian namun murah harganya” ujar Ilham, pengunjung Kolah Watu.

Sebelum Kolah Watu dibuka secara resmi, tempat ini sudah banyak dikunjungi dan selalu ramai setiap harinya. Tidak hanya pengunjung dalam daerah Wonosobo, namun juga dari daerah lain yang berkunjung seperti Banjarnegara, Temanggung hingga Magelang. Para pengunjung akan lebih banyak datang pada akhir pekan atau hari libur. Kebanyakan dari mereka akan datang pada malam hari karena suasana di dalam Kolah Watu yang indah dan hangat untuk dipandang. (Fikri)  

Rabu, 03 November 2021

Rumitnya Liputan di Istana


JKPI – Istana Negara merupakan pusat kegiatan pemerintahan negara khusunya orang nomor satu di Indonesia yaitu presiden, istana juga menjadi tempat penyelenggaraan acara-acara yang bersifat kenegaraan. Karena tempat dan suasana yang berbeda dengan tempat liputan biasanya, Wartawan sekaligus Asisten Redaktur Kompas Bayu Putra menghimbau bahwa meliput berita khususnya di istana banyak sekali hal yang harus dilakukan. Semua yang dilakukan wartawan dalam meliput berbeda dengan tempat lain karena orientasinya adalah keamanan kepala negara. Seorang wartawan harus cepat dan tanggap dalam meliput dan wawancara presiden karena agenda presiden yang banyak dan kadang mendadak.
 
“Menjadi wartawan istana itu melihat bagaimana Presiden dan wakilnya bekerja, juga para pembantunya dalam mengambil kebijakan. Selain itu wartawan juga menjadi bagian dari representasi negara, khususnya saat presiden menerima tamu dari negara sahabat. Namun wartawan itu bukanlah humas dari presiden” tutur Bayu saat menjadi pembicara di Workshop Jurnalistik (Online) Proses Produksi dan Desain Media Cetak yang diadakan oleh KPI UINSA Surabaya, Kamis (28/10/2021) 

Di sisi lain, Bayu Putra juga membeberkan tantangan yang ada pada saat meliput di istana. Menurutnya tantangan liputan di istana adalah kerap mendapatkan narasumber tak terduga sehingga proses riset wawancara seringkali sangat singkat. Wartawan juga harus cepat memahami semua bidang yang menjadi urusan negara. Selain itu wartawan harus sabar menunggu dinamika yang berlangsung karena bisa singkat, bisa pula berjam-jam bahkan dari pagi hingga malam. “Fisik harus prima karena akan sering berlarian dan berdesakan” ucap Bayu. 

Karena rumitnya meliput di istana, Bayu memberikan sedikit tips untuk menjadi wartawan istana. Pertama, wartawan harus datang lebih pagi atau awal dari jadwal. Kedua, menentukan siapa yang akan diwawancarai sejak awal, khususnya bila ada agenda mendadak. Ketiga, gawai selalu aktif untuk riset dadakan dan pemberitahuan agenda mendadak. Dan yang terakhir adalah kerjasama antar wartawan, khususnya saat doorstop banyak narasumber sekaligus. (Fikri)

Minggu, 20 Juni 2021

Mini Book Dakwah Multikultural Dan Komunikasi Lintas Budaya



Atau bisa juga dengan mengakses link di bawah ini https://drive.google.com/file/d/1glJ5i89kJ_mZfj5hdO87Qd1zqJhOtFaE/view?usp=sharing

Minggu, 13 Juni 2021

Hambatan Komunikasi Lintas Budaya Dalam Dakwah Multikultural Moderen

        Setiap daerah memiliki budayanya masing-masing. Dalam satu Negara saja, seperti negara kita Indonesia, terdapat beragam budaya yang tumbuh dan berkembang dan menjadi ciri khas setiap daerah. Seperti kita ketahui, manusia perlu berkomunikasi dengan manusia lainnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai mahluk sosial. Dengan begitu komunikasi lintas budaya tidak dapat dihindarkan. Dengan adanya berbadaan budaya, akan memeperngaruhi persepsi, cara berpikir, juga bahasa yang digunakan individu yang bersangkutan. Sehingga dalam pelaksanaannya komunikasi lintas budaya seringkali menemukan hambatan, contohnya perbedaan persepsi akibat perbedaan bahasa. Misalnya dalam bahasa Sunda kata “atos” berarti “sudah”, sedangkan dalam bahasa Jawa kata “atos” berarti “keras”. Berikut ini akan Pakar Komunikasi paparkan 5 hambatan komunikasi lintas budaya.

1. Etnosentrisme

Etnosentrisme merupakan sikap keyakinan atau kepercayaan bahwa budaya sendiri lebih unggul dari budaya lain. Bahkan cenderung memandang rendah budaya lain, dan tidak mau mengakui keunikan budaya lain sebagai suatu ciri khas dari kelompok lain. Entnosentrisme memandang dan mengukur budaya lain berdasarkan budaya sendiri, dan jika tidak sejalan maka dianggap berlawanan dan berbahaya sebab berpotensi mencemari budaya sendiri.

Hal ini dapat mengakibatkan adanya pembatasan pergaulan dengan individu yang memiliki budaya yang berbeda. Contohnya kecenderungan orang Indonesia yang mengganggap budaya ‘barat’ yang vulgar berlawanan dengan budaya ‘timur’ yang santun. Hal tersebut menimbulkan ketakutan akan tercemarnya budaya lokal oleh budaya asing, sehingga pergaulan dengan orang barat akan dibatasi.

2. Stereotipe

Stereotipe adalah sikap yang menggeneralisasi atau menyamaratakan sekelompok orang, tanpa mempertimbangkan kepribadian atau keunikan masing-masing individu. Stereotipe mengelompokkan individu berdasarkan keanggotaan individu dalam suatu kelompok dan tidak memandang individu dalam kelompok tersebut sebagai individu yang unik. Karakteristik individual mereka diabaikan, dianggap homogen.

Sikap stereotipe muncul karna dua sebab:

-Kecenderungan untuk membagi dunia kedalam dua kategori yaitu ‘aku’ dan ‘mereka’. Ketika informasi yang dimiliki mengenai ‘mereka’ kurang, maka timbul kecenderungan untuk mengganggap ‘mereka’ sebagai homogeny (disamaratakan).

-Kecenderungan untuk sedikit mungkin melakukan kerja kognitif dalam berpikir tentang orang lain, sehingga menimbulkan persepsi selektif terhadap orang-orang disekitar dan membuat informasi yang kita terima tidak akurat.

Stereotipe bersifat negatif, sikap ini dapat menghambat berjalannya proses komunikasi lintas budaya yang efektif dan harmonis. Contoh sikap stereotipe misalnya anggapan bahwa orang berkacamata itu pintar, atau orang padang itu pelit, sedangkan orang batak itu kasar, dan semacamnya. Dengan stereotipe tersebut, bisa saja timbul permasalahan, misalnya stereotipe menganai orang pandang itu pelit, bisa saja membuat orang padang yang bersangkutan merasa tersinggung dan akhirnya timbul konflik.

3. Rasialisme

Rasialisme adalah prilaku diskriminatif, tidak adil dan semena-mena terhadap RAS tertentu.  Bukan saja dapat menghambat terjadinya komunikasi lintas budaya, prilaku ini bahkan dapat menimbulkan konflik berkepanjangan. Berbeda dengan sikap rasis, rasialisme merujuk pada gerakan sosial atau politik yang mendukung teori rasisme. Fokus dari rasialisme adalah kebanggaan ras, identitas politik, atau segregasi rasial. Contoh rasialisme misalnya bangsa Jerman yang merasa dirinya lebih unggul dari bangsa lain, semasa Jerman berada di bawah kepemimpinan Hitler. Contoh lain di Indonesia adalah konflik anti-tionghoa yang pernah terjadi sekitar tahun 1998an, dimana terjadi pengusiran besar-besaran dan bahkan pembantaian terhadap ras tionghoa.

4. Prasangka

Prasangka adalah persepsi yang keliru terhadap seseorang atau kelompok lain. Konsep prasangka mirip dengan streotipe, bahkan dikatakan bahwa prasangka merupakan kunsekuensi dari adanya streotipe. Menurutt Richard W. Brislin, prasangka merupakan sikap tidak adil, menyimpang, dan intoleran terhadap orang atau kelomopok lain. Prasangka pada umumnya bersifat negatif, adanya prasangka dapat  membuat seseorang memandang rendah dan bahkan memusuhi orang atau kelompok lain

Hadirnya prasangka berpotensi menghambat komunikasi lintas budaya yang terjadi antara pemilik prasangka dengan orang atau kelompok target prasangka. Sebab belum apa-apa, seseorang telah memiliki pemikiran negatif terhadap lawan bicara. Hal ini akan membuat komunikasi lintas budaya yang dilakukan tidak efektif. Contoh prasangka misalnya prasangka terhadap ras, suku, atau agama tertentu.

Ada tiga tipe prasangka yang muncul:

-Prasangka kognitif: berada pada ranah pemikiran, benar atau

-Prasangka afektif: berada pada ranah perasaan, suka atau tidak suka.

-Prasangka konatif: berada pada ranah perbuatan, misalnya deskrimninasi terhadap kelompok yang dianggap berlawanan.

Sebenarnya prasangka pasti selalu muncul dalam pemikiran/ perasaan setiap individu. Setiap orang pasti akan lebih suka berkomunikasi dengan orang-orang yang memiliki kesamaan tertentu dengan dirinya dibanding dengan orang lain yang tidak dikenalnya. Namun perbedaan wujud prasangka tersebut akan menentukan seberapa besar hambatan komunikasi yang terjadi. Ketika hanya sebatas pada pemikiran, mungkin seseorang hanya akan menjauhi kelompok lain pada saat tertentu saja, namun ramah di saat yang lain. Tapi jika wujud prasangka tersebut hingga ranah prilaku ekstrem seperti diskriminasi, akan membatasi peluang dan akses terhadap kelompok lain akibatnya komunikasi akan sulit dilakukan.

5. Jarak Sosial

Jarak sosial berbicara tentang kedekatan antar kelompok secara fisik atau sosial. Jarak sosial berbeda dengan stratifikasi sosial atau pelapisan sosial, jarak sosial mengacu pada perbedaan tingkat peradaban antar kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, buka perbedaan kekayaan, kekuasaan, atau ilmu pengetahuan. Pelapisan sosial membagi individu dalam kelompok-kelompok secara hierarkis (vertical). Sedangkan jarak sosial membagi individu individu dalam suatu kelompok secara horizontal, berdasarkan peradaban. Jarak peradaban ini muncul karena adanya perbedaan kemajuan ilmu pengatahuan dan teknologi. Misalnya jarak sosial antara peradaban modern di kota seperti Jakarta dimana segala hal sudah di digitalisasi secara online dengan peradaban di pedalaman papua yang masih mengandalkan cara manual. Kedua daerah tersebut bisa jadi terpisah jarak 100 tahun, meskipun berada di zaman yang sama. Adanya jarak sosial ini dapat menghambat terjadinya komunikasi lintas budaya. Seperti misalnya ketika ditempat lain telah bisa melakukan komunikasi secara online yang  lebih cepat dan mudah, maka untuk komunikasi dengan orang di wilayah yang jarak sosialnya sangat jauh, seseorang harus datang dan berbicara tatap muka secara langsung yang tentunya akan memakan waktu lama juga biaya yang mahal.

6. Persepsi

Persepsi merupakan proses yang dilakukan oleh seseorang untuk mencoba mengetahui dan memahami orang lain. Persepsi merupakan filter yang digunakan oleh seseorang ketika berhubungan dengan kebudayaan yang berbeda.  Persepsi negatif dapat berdampak buruk bagi kefektifan komunikasi lintas budaya.

7. Sikap

Sikap merupakan hasil evaluasi dari berbagai aspek terhadap sesuatu. Sikap menimbulkan rasa suka atau tidak suka. Sikap seseorang terhadap budaya lain, menentukan prilakunya terhadap budaya tersebut. Sikap negatif terhadap budaya lain akan menyebabkan komunikasi lintas budaya sulit berhasil.

8. Atribusi

Atribusi merupakan proses identifikasi penyebab prilaku orang lain yang dilakukan oleh seseorang untuk menetapkan posisi dirinya. Kebudayaan lain, akan diidentifikasi berdasarkan kebudayaannya sendiri. Apabila atribut yang dimiliki kebudayaan lain berbeda, maka kebudayaan lain dapat dipandang negatif.

9. Bahasa

Bahasa merupakan sebuah kombinasi dari system simbol dan aturan yang menghasilkan berbagai pesan dengan arti yang tak terbatas. Antara budaya yang satu dengan yang lainnya, bahasa menjadi pembeda yang sangat signifikan. Kata yang sama bisa memiliki arti yang berbeda, kesalahan penggunaan bahasa bisa jadi sangat fatal akibatnya.

10. Paralinguistik

Paralinguistik merupakan gaya pengucapan seseorang, meliputi tinggi rendahnya suara, tempo bicara, atau dialek. Budaya yang berbeda memiliki paralinguistic yang berbeda, misalnya orang solo yang berbicara pelan dan lambat berbeda dengan orang medan yang berbicara dengan lantang dan cepat.

11. Misinterpretation

Misinterpretation atau salah tafsir merupakan kesalahan penfsiran yang umumnya disebabkan oleh persepsi yang tidak akurat. Hal ini bisa disebabkan karena kesalahan persepsi mengenai intonasi suara, mimic wajah, dkk.

12. Motivasi

Motivasi disini berkaitan dengan tingkat motivasi lawan bicara dalam melakukan komunikasi lintas budaya. Motivasi yang rendah akan menjadi hambatan komunikasi lintas budaya.

13. Experiantial

Experiental atau pengalaman hidup tiap individu berbeda, dan hal tersebut akan mempengaruhi persepsi serta cara pandang seseorang terhadap sesuatu.

14. Emotional

Emotional disini berkaitan dengan emosi pelaku komunikasi. Jika emosi komunikan sedang buruk, komunikasi lintas budaya tidak akan dapat berjalan dengan efektif.

15. Competition

Competiton atau kompetisi terjadi ketika komunikan berkomunikasi sembari melakukan kegiatan lain, misalnya sedang menyetir, menelopon, atau lainnya. Hal ini menyebabkan komunikasi lintas budaya tidak akan berjalan secara maksimal.

Minggu, 30 Mei 2021

Aktivitas Komunikasi Lintas Budaya Verbal dan Non Verbal dalam Dakwah

KOMUNIKASI VERBAL

Komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata, entah lisan maupun tulisan atau bentuk komunikasi yang menggunakan kata-kata, baik dalam bentuk percakapan maupun tulisan (speak  language).  Komunikasi  ini paling banyak dipakai dalam hubungan antar manusia. Melalui kata-kata, mereka mengungkapkan perasaan, emosi, pemikiran, gagasan, atau maksud mereka, menyampaikan fakta, data, dan informasi serta menjelaskannya, saling bertukar perasaan dan pemikiran, saling berdebat, dan bertengkar.  Dalam  komunikasi  verbal itu bahasa memegang peranan penting. Komunikasi Verbal mengandung makna denotative. Media yang sering dipakai yaitu  bahasa.  Karena,  bahasa mampu menerjemahkan pikiran seseorang kepada orang lain. 

Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menggunakan  satu kata atau lebih. Bahasa dapat juga dianggap sebagai sistem kode verbal (Mulyana, 2005). Bahasa dapat didefinisikan sebagai seperangkat simbol, dengan aturan untuk mengkombinasikan simbol-simbol tersebut, yang digunakan dan dipahami suatu komunitas. 

Rakhmat (1994), mendefinisikan bahasa secara fungsional dan formal. Secara fungsional, bahasa diartikan sebagai alat yang dimiliki bersama untuk mengungkapkan gagasan. Ia menekankan dimiliki bersama, karena bahasa hanya dapat dipahami bila ada kesepakatan di antara anggota-anggota kelompok sosial untuk menggunakannya. Secara formal, bahasa diartikan sebagai semua kalimat yang terbayangkan, yang dapat dibuat  menurut  peraturan  tatabahasa.  Setiap bahasa mempunyai peraturan bagaimana kata-kata harus  disusun dan dirangkai-kan supaya memberi arti.

Ada beberapa unsur penting dalam komunikasi verbal, yaitu: 

1. Bahasa 
Pada dasarnya bahasa adalah suatu system lambang yang memungkinkan orang berbagi makna. Dalam komunikasi verbal, lambang bahasa yang diperguna- kan adalah bahasa Bahasa lisan, tertulis pada kertas, ataupun elektronik. Bahasa suatu bangsa atau suku berasal dari interaksi dan hubungan antara warganya satu sama lain. 

2. Keterbatasan Bahasa 
Keterbatasan jumlah kata yang tersedia untuk mewakili objek, katakata adalah kategori-kategori untuk merujuk pada objek tertentu: orang, benda, peristiwa, sifat, perasaan, dan sebagainya. Tidak semua kata tersedia untuk merujuk  pada objek. Suatu kata hanya mewakili realitas, tetapi buka realitas itu sendiri. Dengan demikian, kata-kata pada dasarnya bersifat parsial, tidak  melukiskan sesuatu secara eksak.Kata-kata sifat dalam bahasa cenderung bersifat dikotomis, misalnya baik-buruk, kaya-miskin, pintar-bodoh, dsb. 

3. Kata 
Kata merupakan unit lambang terkecil dalam bahasa. Kata adalah lambing yang melambangkan atau mewakili sesuatu hal, entah  orang,  barang,  kejadian, atau keadaan. Jadi, kata itu bukan orang, barang, kejadian, atau keadaan sendiri. Makna kata tidak ada pada pikiran orang. Tidak ada hubungan  langsung antara  kata dan hal. Yang berhubungan langsung hanyalah kata dan pikiran orang. 

Jenis Komunikasi Verbal 

a. Berbicara dan menulis 
Bericara adalah komunikasi verbal-vokal. Sedangkan menulis adalah komunikasi verbal-nonvocal. Contoh komunikasi verbal-vocal adalah presentasi dalam rapat dan contoh komunikasi verbal-nonvocal adalah surat-menyurat bisnis. 

b. Mendengarkan dan membaca 
Mendengar dan mendengarkan itu kata yang mempunyai makna berbeda, mendengar berarti semata-mata memungut getaran bunyi sedangkan mendengar- kan adalah mengambil makna dari apa yang didengarmendengarkan melibatkan 4 unsur, yaitu mendengar, memperhatikan, memahami, dan mengingat. Membaca adalah suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. 

KOMUNIKASI NON VERBAL

Komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang pesannya dikemas dalam bentuk tanpa kata-kata. Dalam hidup nyata komunikasi nonverbal  jauh  lebih banyak dipakai daripada komuniasi verbal. Dalam berkomunikasi hampir secara otomatis komunikasi nonverbal ikut terpakai. Karena itu, komunakasi nonverbal bersifat tetap dan selalu ada. Komunikasi nonverbal lebih bersifat jujur mengungkapkan hal yang mau diungkapkan karena spontan. 
Nonverbal juga bisa diartikan sebagai tindakan-tindakan manusia yang secara sengaja dikirimkan dan diinterpretasikan seperti tujuannya dan memiliki potensi akan adanya umpan balik (feed back) dari penerimanya.Dalam arti lain, setiap bentuk komunikasi tanpa menggunakan lambang-lambang verbal seperti kata-kata, baik dalam bentuk percakapan maupun tulisan. Komunikasi non verbal dapat berupa lambang-lambang seperti gesture, warna, mimik wajah dll. 

Komunikasi nonverbal (nonverbal communicarion) menempati porsi penting. Banyak komunikasi verbal tidak efektif hanya karena  komunikatornya tidak menggunakan komunikasi nonverbal dengan baik dalam waktu bersamaan. Melalui komunikasi nonverbal, orang bisa mengambil suatu kesimpulan mengenai suatu kesimpulan tentang berbagai macam persaan orang, baik rasa senang, benci, cinta, kangen dan berbagai macam perasaan lainnya. Kaitannya dengan dunia bisnis, komunikasi non verbal bisa membantu komunikator untuk lebih memperkuat pesan yang disampaikan sekaligus memahami reaksi komunikan saat menerima pesan. 

 Bentuk komunikasi nonverbal sendiri di antaranya adalah, bahasa isyarat, ekspresi wajah, sandi, symbol-simbol, pakaian sergam, warna dan intonasi suara. Beberapa contoh komunikasi nonverbal: 
a. Sentuhan, Sentuhan dapat termasuk: bersalaman, menggenggam tangan, berciuman, sentuhan di punggung, mengelus-elus, pukulan, dan lain-lain. 
b. Gerakan Tubuh, Dalam komunikasi nonverbal, kinesik atau gerakan tubuh meliputi kontak mata, ekspresi wajah, isyarat, dan sikap tubuh. Gerakan tubuh biasanya digunakan untuk menggantikan suatu kata atau frase, misalnya mengangguk untuk mengatakan ya; untuk mengilustrasikan atau menjelaskan sesuatu; menunjukkan perasaan. 
c. Vokalik, Vokalik atau paralanguage adalah unsur nonverbal dalam suatu ucapan, yaitu cara berbicara. Contohnya adalah nada bicara, nada suara, keras atau lemah- nya suara, kecepatan berbicara, kualitas suara, intonasi, dan lainlain
d. Kronemik, Kronemik adalah bidang yang mempelajari penggunaan waktu dalam komunikasi nonverbal. Penggunaan waktu dalam komunikasi nonverbal meliputi durasi yang dianggap cocok bagi suatu aktivitas, banyaknya aktivitas  yang dianggap patut dilakukan dalam jangka waktu tertentu, serta ketepatan waktu. 

Minggu, 16 Mei 2021

UNSUR - UNSUR KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA

 1. Manusia – People

Dalam proses komunikasi manusia tentunya melibatkan beberapa orang yang masing-masing memiliki dua peran sekaligus yaitu sebagai sumber pesan dan sebagai penerima pesan. Yang dimaksud dengan sumber pesan adalah pihak yang menginisiasi sebuah pesan, dan yang dimaksud dengan penerima pesan adalah pihak yang menjadi target pesan. Setiap individu tidaklah menampilkan kedua peran ini secara independen. Melainkan, mereka berperan sebagai sumber pesan dan penerima secara simultan dan berkesinambungan. Baik sumber pesan atau penerima pesan tidak merespon semua pesan secara seragam atau menyampaikan pesan dengan cara yang sama. Baik sumber pesan maupun penerima pesan memiliki karakteristik individu seperti ras, jenis kelamin, usia, budaya, nilai-nilai, dan sikap yang mempengaruhi orang lain dalam mengirim dan menerima pesan.


2. Pesan – Message

Pesan dalam komunikasi antar budaya dapat berupa pesan verbal dan pesan nonverbal sebagai bentuk dari gagasan atau ide, pemikiran, ataupun perasaan yang sumber pesan ingin sampaikan atau komunikasikan kepada orang lain atau sekelompok orang yakni penerima pesan. Pesan adalah sebuah isi dari interaksi yang termasuk didalamnya berupa simbol-simbol (kata-kata atau frasa) yang digunakan untuk mengkomunikasikan berbagai gagasan yang disertai dengan ekspresi wajah, gerakan tubuh, gesture, kontak fisik, nada suara, dan kode-kode nonverbal lainnya. Pesan dapat disampaikan secara singkat dan mudah untuk dimengerti atau bahkan disampaikan dengan lebih panjang dan sangat kompleks.


3. Media/Saluran – Channel

Yang dimaksud dengan channel adalah saluran atau media yang menjadi alur pesan dari sumber pesan kepada penerima pesan. Sebuah pesan bergerak dari satu tempat ke tempat lain, atau dari satu orang ke orang lain melalui sebuah media atau channel. Saluran atau media komunikasi dapat berupa gelombang udara, gelombang suara, kabel dan lain-lain.


4. Umpan Balik – Feedback

Feedback atau umpan balik adalah tanggapan yang diberikan oleh penerima pesan yang berupa tanggapan verbal ataupun tanggapan nonverbal. Idealnya, kita merespon pesan yang disampaikan oleh orang lain dengan memberikan umpan balik sehingga sumber pesan mengetahui bahwa pesan telah diterima. Umpan balik adalah bagian dari berbagai situasi komunikasi. Walupun tidak memberikan respon atau diam, itupun sebenarnya adalah bentuk umpan balik.


5. Kode – Code

Yang dimaksud dengan kode adalah sebuah susunan sistematis dari simbol-simbol yang digunakan untuk menciptakan makna di dalam pikiran orang atau orang lain. Simbol-simbol yang dimaksud dapat berupa kata-kata, frasa, dan kalimat yang digunakan untuk membangkitkan atau menciptakan gambar, pemikiran, dan ide di dalam kikiran orang lain. Sebuah computer umumnya membawa pesan-pesan melalui kode biner pada kabel atau serat optic. Hal yang sama dapat kita lakukan dengan orang lain dengan menggunakan sebuah kode yang disebut dengan bahasa.


6. Encoding dan Decoding

Proses komunikasi dapat dilihat sebagai encoding dan decoding. Encoding didefinisikan sebagai sebuah proses mengartikan atau menyandi sebuah ide atau pemikiran ke dalam sebuah kode. Decoding adalah proses memberikan makna terhadap ide atau pikiran.


7. Gangguan – Noise

Dalam suatu proses komunikasi, noise atau ganguan adalah segala bentuk interferensi dalam proses encoding dan decoding yang mengurangi kejelasan sebuah pean. Gangguan dapat bersifat fisik seperti suara yang sangat keras atau sebuah perilaku yang tidak biasa misalnya seseorang yang berdiri terlalu dekat dengan kita sehingga kita merasa tidak nyaman. Gangguan juga dapat berupa gangguan mental, psikologis, atau semantic.


Senin, 10 Mei 2021

Dakwah Dalam Kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya

 

Usaha dakwah antar budaya ini mencakup beberapa sendi yang sangat luas, hal ini dapat berlangsung dengan baik bila kita mau menjaga keharmonisan dan sikap toleransi antar budaya. Apabila sebelum kita melakukan aktifitas kehidupan sehari-hari kita selalu melakukan yang terbaik bagi keberlangsungan hidup manusia, hal ini akan menambah khasanah yang saling menguntungkan satu sama lainnya. Untuk mewujudkan keberlangsungan dakwah antar budaya ini tentunya yang perlu kita lakukan adalah tindakan-tindakan sikap, perilaku yang sudah terprogram secara baik dan dikerjakan sesuai mengejek ibadah mereka sebatas mereka juga tidak mengganggu dengan ibadah yang kita lakukan. 

Sebagai makhluk yang berbudaya, maka misi dakwah melalui pendekatan dakwah antar budaya manusia selalu hidup bersama dan tidak dapat hidup sendiri dalam memenuhi kebutuhannya. Sejak lahir manusia selalu berinteraksi dengan orang lain. ini dapat dilihat dalam kehidupan kita sehari-hari, semua kegiatan yang dilakukan manusia selalu berhubungan dengan orang lain. Bayi yang baru lahir perlu interaksi dengan ibu, begitu juga dalam perkembangannya selalu dibantu oleh anggota keluarga lain. Interaksi manusia dengan manusia tersebut menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang punya budaya dan selalu hidup bersama serta tidak dapat hidup sendiri dalam memenuhi kebutuhannya. Kerjasama yang baik dalam kehidupan akan sangat membantu manusia dalam menjalankan hidup. Manusia yang satu akan melengkapi manusia yang lain. Sedangkan manusia disebut makhluk individu karena manusia itu tercipta dengan kepribadian, keunikan, kekurangan dan kelebihan, masing-masing sangat berbeda satu dengan yang lainnya, sehingga hanya ada satu saja di dunia ini. Selain itu disebut makhluk individu karena manusia itu mempunyai pola pikir, kehendak, kemauan sendiri-sendiri, yang seringkali bertentangan dengan orang lain. Tetapi karena banyaknya jumlah manusia, seringkali ada kesamaan tujuan, keinginan, minat dan lain-lain, yang akhirnya membentuk sebuah kelompok atau organisasi. 

Setiap manusia hidup dalam satu lingkungan budaya tertentu. Setiap lingkungan budaya itu senantiasa memberlakukan adanya nilai-nilai sosial dan budaya yang diacu oleh warga masyarakat sebagai penghuninya. Melalui suatu proses secara berkesinambungan itulah setiap manusia akan menganut suatu nilai dakwah yang diperoleh dari lingkungannya. Nilai-nilai itu diadopsi dan kemudian diimplementasikan dalam suatu bentuk “kebiasaan” yakni pola sikap dan perilaku kehidupan sehari-hari, dengan demikian pola perilaku seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain akan dipengaruhi oleh nilai-nilai yang diperoleh dari lingkungan antar budayanya. 

Kecenderungan dasar masyarakat terhadap kehidupan yang melingkupinya di samping kehidupan damai dan harmonis juga sangat rentan dengan trend to conflict dan konfrontatif. Kondisi demikian ini dalam perspektif dakwah merupakan bagian dari situasi dan kondisi masyarakat kita yaitu masyarakat yang mudah terkena konflik yang berasal dari luar diri kita yang muncul beraneka ragam. Mengacu pendapat para ahli antropolog, dakwah antar budaya dalam kehidupan masyarakat sedikitnya memiliki tiga kategori yang harus kita perhatikan yakni adanya wujud budaya sebagai suatu ide, gagasan, nilai dan peraturan. Wujud yang lain adalah adanya suatu wujud kompleks aktivitas kelakuan yang berpola dari manusia dan masyarakat. 

Dengan demikian metode dakwah dengan pendekatan dakwah antar budaya mampu mewujudkan suatu tatanan kehidupan yang lebih baik yaitu proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antar budaya orang lain dan dengan pendekatan antar budaya ini sebagai salah satu watak dasar Islam sebagai agama perdamaian. Dakwah antar budaya merupakan sebagai proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antar subjek, objek dakwah serta keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi pada tingkat intra dan antarbudaya agar pesan dakwah dapat tersampaikan dengan tetap terpelihara situasi dan kondisi. Dakwah antar budaya pada mulanya merupakan gagasan alternative bagi resolusi konflik pada diri manusia, baik antar individu maupun individu dengan kelompok lain. Solusi dakwah antar budaya kepada manusia atau kepada diri sendiri menghasilkan metode nafsiyah dengan rincian sub metodenya. Adapun wujud konkrit dari produk dari dakwah antar budaya ketika terjadi proses interaksi antara nilai Islam dengan budaya-budaya lokal yang nantinya akan menghasilkan wujud budaya Islami yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang ada pada masyarakat pada umumnya, serta masingmasing nilai resistensi terjadi pembauran atau akulturasi, penerimaan salah satunya menimbulkan hegemoni nilai budaya akhirnya terjadi perpaduan yang saling menguntungkan dan saling mengisi.

 

Kolah Watu, Wisata Kekinian Di Tengah Kota

  Wonosobo – Kolah Watu merupakan tempat rekreasi baru dan hits di Wonosobo, Jawa Tengah. Kolah Watu tepatnya berlokasi di Perumahan Asli Pe...