Senin, 10 Mei 2021

Dakwah Dalam Kajian Pola Komunikasi Lintas Budaya

 

Usaha dakwah antar budaya ini mencakup beberapa sendi yang sangat luas, hal ini dapat berlangsung dengan baik bila kita mau menjaga keharmonisan dan sikap toleransi antar budaya. Apabila sebelum kita melakukan aktifitas kehidupan sehari-hari kita selalu melakukan yang terbaik bagi keberlangsungan hidup manusia, hal ini akan menambah khasanah yang saling menguntungkan satu sama lainnya. Untuk mewujudkan keberlangsungan dakwah antar budaya ini tentunya yang perlu kita lakukan adalah tindakan-tindakan sikap, perilaku yang sudah terprogram secara baik dan dikerjakan sesuai mengejek ibadah mereka sebatas mereka juga tidak mengganggu dengan ibadah yang kita lakukan. 

Sebagai makhluk yang berbudaya, maka misi dakwah melalui pendekatan dakwah antar budaya manusia selalu hidup bersama dan tidak dapat hidup sendiri dalam memenuhi kebutuhannya. Sejak lahir manusia selalu berinteraksi dengan orang lain. ini dapat dilihat dalam kehidupan kita sehari-hari, semua kegiatan yang dilakukan manusia selalu berhubungan dengan orang lain. Bayi yang baru lahir perlu interaksi dengan ibu, begitu juga dalam perkembangannya selalu dibantu oleh anggota keluarga lain. Interaksi manusia dengan manusia tersebut menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang punya budaya dan selalu hidup bersama serta tidak dapat hidup sendiri dalam memenuhi kebutuhannya. Kerjasama yang baik dalam kehidupan akan sangat membantu manusia dalam menjalankan hidup. Manusia yang satu akan melengkapi manusia yang lain. Sedangkan manusia disebut makhluk individu karena manusia itu tercipta dengan kepribadian, keunikan, kekurangan dan kelebihan, masing-masing sangat berbeda satu dengan yang lainnya, sehingga hanya ada satu saja di dunia ini. Selain itu disebut makhluk individu karena manusia itu mempunyai pola pikir, kehendak, kemauan sendiri-sendiri, yang seringkali bertentangan dengan orang lain. Tetapi karena banyaknya jumlah manusia, seringkali ada kesamaan tujuan, keinginan, minat dan lain-lain, yang akhirnya membentuk sebuah kelompok atau organisasi. 

Setiap manusia hidup dalam satu lingkungan budaya tertentu. Setiap lingkungan budaya itu senantiasa memberlakukan adanya nilai-nilai sosial dan budaya yang diacu oleh warga masyarakat sebagai penghuninya. Melalui suatu proses secara berkesinambungan itulah setiap manusia akan menganut suatu nilai dakwah yang diperoleh dari lingkungannya. Nilai-nilai itu diadopsi dan kemudian diimplementasikan dalam suatu bentuk “kebiasaan” yakni pola sikap dan perilaku kehidupan sehari-hari, dengan demikian pola perilaku seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain akan dipengaruhi oleh nilai-nilai yang diperoleh dari lingkungan antar budayanya. 

Kecenderungan dasar masyarakat terhadap kehidupan yang melingkupinya di samping kehidupan damai dan harmonis juga sangat rentan dengan trend to conflict dan konfrontatif. Kondisi demikian ini dalam perspektif dakwah merupakan bagian dari situasi dan kondisi masyarakat kita yaitu masyarakat yang mudah terkena konflik yang berasal dari luar diri kita yang muncul beraneka ragam. Mengacu pendapat para ahli antropolog, dakwah antar budaya dalam kehidupan masyarakat sedikitnya memiliki tiga kategori yang harus kita perhatikan yakni adanya wujud budaya sebagai suatu ide, gagasan, nilai dan peraturan. Wujud yang lain adalah adanya suatu wujud kompleks aktivitas kelakuan yang berpola dari manusia dan masyarakat. 

Dengan demikian metode dakwah dengan pendekatan dakwah antar budaya mampu mewujudkan suatu tatanan kehidupan yang lebih baik yaitu proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antar budaya orang lain dan dengan pendekatan antar budaya ini sebagai salah satu watak dasar Islam sebagai agama perdamaian. Dakwah antar budaya merupakan sebagai proses dakwah yang mempertimbangkan keragaman budaya antar subjek, objek dakwah serta keragaman penyebab terjadinya gangguan interaksi pada tingkat intra dan antarbudaya agar pesan dakwah dapat tersampaikan dengan tetap terpelihara situasi dan kondisi. Dakwah antar budaya pada mulanya merupakan gagasan alternative bagi resolusi konflik pada diri manusia, baik antar individu maupun individu dengan kelompok lain. Solusi dakwah antar budaya kepada manusia atau kepada diri sendiri menghasilkan metode nafsiyah dengan rincian sub metodenya. Adapun wujud konkrit dari produk dari dakwah antar budaya ketika terjadi proses interaksi antara nilai Islam dengan budaya-budaya lokal yang nantinya akan menghasilkan wujud budaya Islami yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai yang ada pada masyarakat pada umumnya, serta masingmasing nilai resistensi terjadi pembauran atau akulturasi, penerimaan salah satunya menimbulkan hegemoni nilai budaya akhirnya terjadi perpaduan yang saling menguntungkan dan saling mengisi.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kolah Watu, Wisata Kekinian Di Tengah Kota

  Wonosobo – Kolah Watu merupakan tempat rekreasi baru dan hits di Wonosobo, Jawa Tengah. Kolah Watu tepatnya berlokasi di Perumahan Asli Pe...