Basis Dakwah Multikultural
Basis dakwah multikultural sebenarnya terdapat dalam kitab suci
AlQur’an itu sendiri yang menegaskan bahwa fakta multikultural umat manusia
yang beragam dan berbeda satu sama lain merupakan kehendak sekaligus sunatullah
bagi kehidupan umat manusia sepanjang sejarah. Dengan kesadaran tentang adanya
keragaman dan perbedaan itu, umat manusia dituntut untuk berlomba-lomba dalam
kebajikan, sehingga akan terjadi kreativitas dan peningkatan kualitas kehidupan
umat manusia dalam berbagai aspeknya demi kemaslahatan hidup bersama.
Pendekatan Dakwah Multikultural
Dakwah
dengan pendekatan multikulturalisme adalah sebuah pemikiran dakwah yang concern
pada penyampaian pesan-pesan Islam dalam konteks masyarakat plural dengan cara
berdialog untuk mencari titik temu atau kesepakatan terhadap hal-hal yang
mungkin disepakati, dan berbagai tempat untuk hal-hal yang tidak dapat
disepakati. Pendekatan multikulturalisme
mencoba melihat yang banyak itu sebagai keunikan tersendiri dan tidak
seharusnya dipaksa untuk disatukan, tetapi tetap berjalan harmonis dalam
keragaman. Intinya, pendekatan multikulturalisme dalam dakwah berusaha untuk
mencapai dua hal, yaitu titik temu dalam keragaman, dan toleransi dalam
perbedaan. Dakwah dengan pendekatan multikulturalisme adalah sebuah pemikiran
dakwah yang concern pada penyampaian pesan-pesan Islam dalam konteks masyarakat
plural dengan cara berdialog untuk mencari titik temu atau kesepakatan terhadap
halhal yang mungkin disepakati, dan berbagai tempat untuk hal hal yang tidak
dapat disepakati.
Pendekatan pendekatan dakwah multikultural
mencakup lima spek yakni menekankan agar target dakwah lebih diarahkan pada
pemberdayaan kualitas umat dalam ranah internal dan kerja sama serta dialog
antar-agama dan budaya dalam ranah eksternal, menggagas ide tentang kesetaraan
hak-hak warga negara (civil right), termasuk hak-hak kelompok minoritas, lebih
mengutamakan pendekatan kultural ketimbang harakah (salafi jihady), menggagas
ide dialog antar-budaya dan keyakinan (interculture-faith understanding), serta
menyegarkan kembali pehamaman doktrindoktrin Islam klasik, dengan cara
melakukan reinterpretasi dan rekonstruksi paham Islam, sesuai dengan
perkembangan masyarakat global-multikultural.
Daftar Pustaka
12
A. Ilyas Ismail dan Prio Hotman, Filsafat Dakwah: Rekayasa Membangun Agama dan
Peradaban Islam (Jakarta:
Kencana, 2011), p. 262-4.
Abdul Basit, Filsafat Dakwah (Jakarta: Rajawali Pers, 2013), pp. 45-6. Jakarta: Amzah, 2008), p. 17.
Tilaar,
Kaleidoskop Pendidikan Nasional (Jakarta: Kompas, 2012), pp. 919-20.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar